Chapter 2: Aku yang Terpengaruh
Keesokan harinya, aku datang kepadanya dan mengatakan padanya untuk ikut serta dalam acara tersebut.
Aku tidak akan membahas disini bagaimana perjalanku disana. Pokoknya saat itu acara berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Walaupun ada seorang guru yang tertinggal karena harus berangkat dini hari. Apalagi alasannya kalau bukan tertidur pulas.
Setelah 3 bulan masa percobaan ku, akhirnya aku di terima bekerja disekolah itu. Di awal tahun ajaran baru, aku di tempatkan di level yang sama dengannya. Nama wanita itu Sandra. Aku selalu bertanya apapun tentang sekolah ini padanya. Dia mengajari ku berbagai hal dari bagaimana sekolah itu di bangun sampai bagaimana menguasai kelas dengan ‘caranya’. Aku tak mengerti apakah yang sebetulnya dia ajarkan padaku saat itu adalah hal yang benar atau salah. Tapi saat itu aku adalah anak baru yang belum tau apa-apa. Jadi, aku mengikuti apa yang dia katakan dan mungkin sedikit banyak aku meng-improvenya dengan cara ku sendiri.
Seiring waktu berjalan, banyak yang mengira bahwa sikap ku menjadi mirip sekali dengannya. Sampai akhirnya aku di panggil oleh psikolog sekolahku. Dia menganggap kemiripan sikap kami ini, membuatku terlihat membangkang dan tidak mau ikut aturan di sekolah.
Rumor ini ternyata semakin menyebar luas sampai ke telinga sahabatku. Kebetulan sahabatku bekerja di sekolah yang sama dengan ku, dia di tingkat Taman kanak-kanak (TK) dan aku di Sekolah dasar (SD). Sahabat ku bernama Luna. Luna tidak pernah mempermasalahkan sedikitpun tentang perubahan sikapku. Karena memang aku tidak berubah sama sekali. Aku tetap menjadi aku yang tegas dan sedikit keras kepala.
Aku sudah tidak mau memikirkan apa yang orang lain fikirkan tentangku. Tapi terkadang hal tersebut membuatku berfikir, ‘Apa iya aku sepertinya?’ ‘Apa iya aku tidak mempunyai sikap dan selalu mengikuti orang lain?’ tapi semua pertanyaan itu selalu ku hindari, karena aku tau siapa aku dan bagaimana aku harus bersikap.
Psikolog di sekolahku, memberi nasihat padaku untuk tidak bersikap seperti Sandra. Sejenak fikiranku melayang dan mulai bertanya-tanya. Apa yang salah dengan Sandra? Apa dia pernah berbuat sesuatu yang jahat? Apa dia pernah menyakiti hati orang yang berkerja disana dengan gaya berbicara dia yang ceplas ceplos? Apa dia ada orang yang tidak di sukai di satu sekolah ini? Sesungguhnya siapa dia? Apa yang membuat psikolog sekolah ku memberikan saran seperti itu? Aneh memang, aku sungguh tak mengerti.
Setiap nasihat yang Psikolog itu berikan, aku dengarkan dengan seksama. Aku merekam setiap nasihat demi nasihat yang dia berikan padaku walaupun itu terdengar janggal dan aneh. Tapi aku menghormatinya dan tidak membatah satu kata pun yang dia ucapakan padaku.
Sambil mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya, akupun mulai kembali bertanya pada diriku sendiri, apa semua yang dia ucapkan padaku itu benar?
Bersambung …
Komentar
Posting Komentar